Pendahuluan
Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus DC.) adalah tanaman sayuran yang populer di Asia Tenggara. Selain polong mudanya yang lezat dijadikan sayur atau lalapan, tanaman ini juga memiliki khasiat obat yang berharga. Dikenal dengan nama Kacang botol di Melayu, Jaat di Sunda, dan Kelongkang di Bali, Kecipir merupakan sumber protein nabati yang baik.
Deskripsi Botani
Kecipir adalah tanaman semak yang tumbuh merambat. Batangnya membelit, beralur, dan beruas-ruas berwarna hijau. Daunnya adalah daun majemuk beranak daun tiga (trifoliate), berbentuk segitiga dengan ujung lancip dan pangkal tumpul. Pucuk daun seringkali memiliki noda-noda kuning.
Bunganya bertipe kupu-kupu yang khas untuk famili Papilionaceae, berwarna biru muda, ungu, atau putih. Ciri paling khas dari tanaman ini adalah buahnya yang berupa polong memanjang berbentuk segi empat dengan empat ‘sayap’ bergerigi di sepanjang tepinya. Di dalam polong terdapat biji bulat berwarna coklat. Akarnya merupakan akar tunggang yang seringkali membentuk umbi yang juga dapat dimakan.
Kandungan Kimia
Analisis kimia menunjukkan bahwa daun dan biji Kecipir mengandung saponin, flavonoida, dan tanin. Kandungan nutrisinya juga tinggi, terutama protein dan vitamin.
Khasiat Kesehatan
Dalam pengobatan tradisional, daun Kecipir dimanfaatkan untuk mengatasi peradangan, khususnya radang pada telinga.
Obat Radang Anak Telinga
Infeksi atau peradangan pada telinga (seperti otitis media ringan) dapat diredakan dengan ramuan daun Kecipir. Daunnya dipercaya memiliki efek antiseptik dan anti-inflamasi.
Cara Penggunaan
Untuk membuat obat tetes telinga alami dari daun Kecipir:
- Ambil daun segar Psophocarpus tetragonolobus sebanyak kurang lebih 7 gram.
- Cuci bersih daun tersebut.
- Rebus daun dengan 1 gelas air selama 15 menit.
- Setelah dingin, peras dan saring air rebusannya.
- Gunakan air saringan tersebut sebagai obat tetes telinga. Teteskan pada telinga yang sakit sebanyak 4 tetes, lakukan tiga kali sehari.
Penyebaran
Kecipir tumbuh subur di daerah tropis lembab. Tanaman ini sering dibudidayakan di pekarangan rumah dengan menggunakan anjang-anjang atau rambatan pagar.

